Empat Prinsip untuk Membangun Budaya Inovasi di Perusahaan

innovation-imperative-100694176-large

Ketika perusahaan seperti Apple dan Google selalu menjadi berita utama dan menarik perhatian para eksekutif di mana-mana, hampir setiap majalah profesional, jurnal, konferensi, dan ruang pertemuan hari ini dipenuhi dengan istilah inovasi yang merupakan ciri khas kedua perusahaan tersebut. Mereka mengatakan bahwaiInovasi telah tiba, dan telah membuat perubahan yang sangat besar.

Namun demikian masih sangat sedikit perusahaan yang tahu bagaimana menjadikan inovasi sebagai praktik bisnis yang handal dan bisa terus menerus terjadi. Penelitian yang dilakukan oleh Doblin Inc., mengungkap fakta bahwa hanya kurang dari 4 persen proyek inovasi yang dilakukan oleh para pebisnis terbukti berhasil. Sisanya, sebesar 96 persen dinyatakan sebagai proyek inovasi yang  gagal.

Mengamati kiprah perusahaan yang paling inovatif di dunia, dan mempelajari ratusan inovasi yang berhasil, dan mengutip Vijay Kumar, 101 Metode Desain, dapat dirumuskan empat prinsip yang menjadi fondasi untuk membangun budaya inovasi di perusahaan. Dengan pengembangan prinsip-prinsip, perusahaan dapat mulai mengembangkan penguasaan praktik inovasi baru yang efektif.

1: Bangun Inovasi di Sekitar Pengalaman
Pengalaman dapat didefinisikan sebagai “tindakan hidup melalui berbagai peristiwa. Pengalaman yang dimaksud di sni bukan pengalaman bisnis perusahaan atau pimpinan perusahaan, tetapi pengalaman pengguna Pengalaman pengguna adalah faktor kunci dalam keberhasilan segala jenis penawaran. Setiap perusahaan dan organisasi dalam ukuran tertentu menciptakan atau memengaruhi pengalaman orang. Sika perusahaan dan organisasi memahami   sifat pengalaman pelanggan maka dapat menjadi modal dan memberikan titik awal yang sempurna untuk inovasi.
Bayangkan diri Anda sebagai karyawan sebuah perusahaan sepatu yang ditugasi menciptakan inovasi baru pada produk kopi. Anda biasanya akan mulai dengan mempelajari berbagai jenis kopi dan berpikir tentang cara meningkatkan kinerja penjualan produk kopi tersebut, kualitas kopi, campuran kopi, dan kemasan yang lebih menarik. Kegiatan tersebut sebenarnya juga dilakukan oleh pesaing kita, oleh karena itu peningkatan kinerja produk  kurang lebih sama dengan dengan pesaing Anda. Namun jika innovasi dilakukan dengan melihat konteks yang lebih luas dari bubuk kopi, maka kita akan dapat melihat berbagai kegiatan yang lebih luas yang melibatkan pelanggan  terkait dengan pengalaman minum kopi, waktu yang tepat untuk menikmati kopi, cara menyajikan kopi dan kegiatan-kegiatan lainnya yang memberikan peluang inovasi lebih besar dan pada gilirannya akan memberi cara baru untuk bersaing.

2: Pikirkan Inovasi sebagai Sistem
Sebuah penawaran, apakah itu produk, layanan, atau media / pesan, secara alami menjadi milik sistem penawaran, organisasi, dan pasar yang lebih besar. Sistem dapat didefinisikan sebagai seperangkat entitas yang berinteraksi atau saling bergantung yang membentuk keseluruhan yang terintegrasi dan memiliki skala yang lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya. Inovator yang memahami bagaimana sistem yang lebih besar ini bekerja dapat lebih baik menciptakan dan memberikan penawaran dengan nilai tinggi.

Pendekatan tradisional untuk inovasi produk adaah dengan fokus mengembangkan fitur produk yang ada saat ini. Namun jika kita meletakkan produk tersebut ke dalam sistem rantai nilai produk tersebut maka akan didapat berbagai pandangan yang akan menjadi peluang untuk melakukan inovasi. Ketika meletakkan produk kopi ke dalam sistem rantai produk dan pemasaran produk kopi maka kita akan melihat posisi produk kita dalam rangkaian sistem dan dapat melihat para pelaku di dalam sistem tersebut seperti produsen, pelanggan, distributor, influencer dsb.

3: Menumbuhkan Budaya Inovasi
Kisah kesuksesan Apple melalui inovasi desain sudah banyak diketahui oleh khalayak  dan tidak terlalu mengejutkan lagi. Apple adalah perusahaan yang relatif muda, didirikan dan dibangun berdasarkan gagasan desain teknologi yang berpusat pada pengguna. Meskipun sekarang merupakan firma yang menjadi langganan masuk dalam Fortune 500 dan memiliki karyawan kurang lebih 60.000 karyawan di seluruh dunia, Apple tetap mewarisi dan berhasil mempertahankan sampai saat ini banyak budaya organisasinya yang dibangun oleh para pendirinya sejak di Silicon Valley. Pendiri-CEO-nya, Steve Jobs, adalah inovator par excellence alami yang tahu bahwa desain adalah salah satu pembeda utama perusahaan. Singkatnya, perusahaan seperti Apple memiliki banyak keunggulan organisasi dan budaya yang memungkinkannya mengejar strategi inovasi desain.

Prinsip ini fokus membahas bagaimana mind set inovasi dapat tertanam dalam setiap diri karyawan dan dapat ditunjukkan dalam setiap aktivitas sehari-hari dan setiap orang dapat mengembangkan inovasi pada setiap posisinya didukung ole budaya inovasi organisasi yang kondusif. Inovasi adalah proses kolaboratif dan orang-orang dengan kompetensi di berbagai bidang perlu bersatu untuk membuat prosesnya bisa menyeluruh, inklusif, dan berharga. Insinyur, pakar teknis, ahli etnografi, manajer, perancang, perencana bisnis, peneliti pemasaran, dan perencana keuangan, semua harus bersatu dan duduk bersama. Baru-baru ini, bahkan pengguna akhir dan anggota komunitas juga dibawa ke dalam proses inovasi. Meskipun untuk mencapai tingkat kolaborasi ini merupakan tantangan yang besar, perusahaan dapat mengambil langkah kecil yang pada akhirnya dapat menyebabkan perubahan positif yang besar dalam budaya inovasi organisasi. Salah satu langkah tersebut adalah melakukan sesi interaktif di dalam kerja dengan frekuensi yang tinggi dan kegiatan curah pendapat di antara orang-orang dengan beragam keahlian.

4: Mengadopsi Proses Inovasi yang Disiplin
Inovasi yang sukses dapat dan harus direncanakan dan dikelola seperti fungsi organisasi lainnya. Misalnya model design driver innovation yang memulai tahapannya dengan memahami kebutuhan pengguna, mengembangkan konsep, dan merancang komersialisasi dan teknologi produksi yang dibutuhkan.

Dimungkinkan untuk menciptakan inovasi menggunakan proses yang dikembangkan dengan baik dan metode yang dapat diulang. Semuanya dikembangkan untuk mendukung dan memperluas tiga prinsip inovasi yang sukses lainnya – memahami pengalaman, berpikir dalam hal sistem, dan menumbuhkan budaya inovasi. Diperlukan tingkat kedisiplinan yang tinggi agar proses dan metode ini berhasil, tetapi ketika mereka melakukannya, kemungkinan menciptakan inovasi yang berhasil ”

 

Advertisements


Categories: artikel

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

%d bloggers like this: