Meningkatkan Efektivitas Organisasi di Era Generasi Millenial (2/2)

millenial-generation-gif

 

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan mengenai panduan dalam mengelola generasi millenialsampai dengan poin ke enam. Berikut ini adalah kelanjutannya

Prinsip ketujuh dalam mengelola generasi millenial adalah denganmemanfaatkan perilaku mereka terhadap teknologi. Generasi milenial memiliki pola perilaku yang kurang pas dengan orientasi perusahaan, dimana mereka cenderung mengekspose dan membranding kemampuan personal mereka sehingga industri tau kemampuan mereka. Kondisi tersebut sebaiknya dimanfaatkan oleh perusahaan untuk strategi pemasaran atau brand image perusahaan. Kedelapan, mengembangkan sistem rekognisi yang sesuai. Sistem rekognisi adalah sistem apresiasi terhadap pencapaian, kemampuan, dan prestasi lainnya. Disamping sistem reward yang bersifat materi perusahaan perlu mengembangkan sistem apresiasi yang menyentuh sisi afeksi (emosional) dari karyawan sehingga apa yang keberadaan mereka dan apa yang mereka lakukan dinilai tinggi oleh perusahaan. Sembilan, Jangan menjauhkan mereka dari kehidupan digital. generasi mileneal adalah generasi yang tingkat literasi terhadap teknologi informasi sangat tinggi, sehingga membatasi ruang gerak mereka dalam bidang tersebut akan sia-sia dan kontra produktif. Oleh sebab itu perusahaan perlu mengembangkan kebijakan yang tepat guna memastikan bahwa kehidupan digital merupakan bagian dari pola kerja mereka. Misalnya penggunaan media sosial untuk berkoordinasi atau berinteraksi, membahas permasalahan atau menyampaikan informasi perusahaan.

Pemaparan di atas telah mengupas karakteristik dan langkah-langkah manajerial untuk mengelola generasi milenial agar kinerja perusahan tidak terganggu. Tetapi langkah-langkah tersebut baru menyentuh aspek personal dari generasi milenial tersebut. Apa yang harus dilakukan pada level organisasi, menyangkut berjalannya operasi secara baik pada subdivisi pada organisasi perusahaan perlu juga dirumuskan dengan baik. Pada dasarnya kontribusi yang diharapkan perusahaan dari keberadaan karyawan adalah memberikan kontribusi kinerja yang tinggi. Jika karakteristik generasi milenial dalam hal karir adalah cencerung memiliki pola karir yang mereka tentukan sendiri secara mandiri tanpa tergantung terhadap perusahaan serta senang terhadap pekerjaan yang atraktif maka perusahaan perlu menyiapkan sistem yang dapat memastikan bahwa mereka akan tetap memberikan kontribusi produktivitas kerja yang tinggi dan di sisi yang lain mengakomodasi kebutuhan mereka terhadap perkembangan karir dan pengalaman baru.

Pada akhirnya perusahaan sebaiknya mengembangkan atau memperbaiki beberapa sistem terkait dengan pengelolaan talenta. Sistem pengelolaan talenta tersebut terkait dengan usaha mempertahankan produktivitas generasi milenial ini. Pertama adalah sistem pengembangan kompetensi atau kapabilitas karyawan yang terintegrasi. Perusahaan perlu mengembangkan standar kompetensi yang mencakup aspek soft dan hard pada setiap rumpun jabatan yang ada. Aspek soft competency meliputi sikap dan perilaku utama yang harus dimiliki oleh karyawan terkait dengan nilai-nilai dan budaya perusahaan. Aspek hard competency mencakup pengatahuan dan keterampilan teknis yang dibutuhkan agar dapat memberikan kontribusi kinerja pada posis tertentu dalam organisasi. Standar kompetensi tersebut dibuat dengan tujuan agar perusahaan mengetahui standar kemampuan yang dibutuhkan pada setiap rumpun jabatan yang ada sehingga perusahaan dapat mempersiapkan kaderisasi dan rencana pengembangan kemampuan karyawan. Kedua adalah sistem jenjang karir yang fleksibel. Perbaikan sistem opla karir ini memiliki tujuan agar karyawan senantiasa mendapatkan pekerjaan yang memberikan kepuasan bagi mereka. Diharapkan perbaikan sistem ini mengakomodasi kebutuhan generasi milenial terhadap pekerjaan dan penugasan yang atraktif. Pola karir didesain agar memungkinkan karyawan dapat menjelajahi posisi-posisi yang ada di dalam perusahaan walaupun itu berada pada rumpun jabatan yang berbeda.

Penutup

Fenomena generasi mileneal memunculkan tantangan tersendiri bagi perusahaan. Watak dan perilaku yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya menjadikan daya efektivitas organisasi sedikit banyak akan terganggu. Sika efektivitas organisasi terganggu maka perusahaan akan mengalami hambatan dalam mengatasi kondisi eksternal perusahaan yang menjadi penghalang pencapaia sasaran kinerja. Perusahaan perlu mengantisipasinya dengan mengembangkan serangkaian intervensi baik pada level indivdu maupun organisasi agar generasi mileneal tersebut tetapi mampu memberikan kontribusi maksimal bagi pencapaian kienrja perusahaan.

Advertisements


Categories: artikel

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

%d bloggers like this: