Peluang Emas dalam Perubahan Paradigma Bisnis (2)

social-media-domination

Terdapat tiga pendekatan yang bisa digunakan untuk mengeliminir dampak dari observational selection bias. Pertama adalah, pemimpin yang inovatif membutuhkan pemahaman mengenai megatrend yang didukung oleh fakta. Kedua, pemimpin yang inovatif membutuhkan pemahaman mengenai paradigma baru yang saat ini sedang berkembang. Ketiga, pemimpin yang inovatif dapat mengeksplorasi kesempatan dan model bisnis yang muncul dari paradigma tersebut. Sebagai contoh, jika pemimpin yang inovatif dapat merubah perspektif dari ide yang dulu merupakan masalah kemudian bisa mengubahnya menjadi solusi, kemudian bisa menjadikan semua kesempatan tersebut dikembangkan dan dikomesialisasikan.

Sebuah forum yang memperbincangkan perubahan paradigma dalam berbisnis yakni TNHK forum berusaha merumuskan beberapa perubahan besar yang mereka lihat dalam dunia bisnis. Dari hasil diskusi tersebut, dirumuskan enam 6 perubahan paradigma yang memberikan pengaruh yang besar di masa yang akan datang.

 

  1. Push to Pull

Paradigma ini memandang bahwa untuk meningkatkan keunggulan kompetitif produk dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan maka perusahaan tidak bisa lagi memiliki pandangan bahwa merekalah yang paling memahami produk yang diinginkan oleh karyawan, tetapi harus berubah pandangannya bahwa yang paling paham kualitas produk yang diharapkan oleh konsumen adalah konsumen itu sendiri, sehingga dalam merencanakan produksi perusahaan perlu melibatkan pelanggan dalam menentukan produk dan jasa yang akan dihasilkan oleh perusahaan.

Para pemimpin perusahaan perkebunan diharapkan bisa mengevaluasi sejauhmana mereka telah melibatkan aspirasi dari konsumen produk mereka dalam perencanaan produksi produk yang akan mereka hasilkan. perubahan orietansi bisnis dari sebelumnya production oriented berubah ke arah customer oriented menjadi tantangan yang krusial bagi mereka.

  1. Consume to create

Jika saat ini kecenderungan perusahaan hanya mengkonsumsi produk dari perusahaan lain sebagai bahan untuk memproduksi produknya maka perlu dipikirkan apakah perusahaan memiliki kemampuan untuk menciptakan bahan subtitusi sehingga ketergantungan dengan supplier menjadi lebih rendah. Misalnya saja ketergantungan perusahaan terhadap energi listrik, maka bisa dimulai difikirkan bagaimana membangkitkan energi listrik dari aset dan sumberdaya yang kita miliki. Saat ini berbagai macan alternative pembangkit listrik telah tersedia, misalnya solar cell, PLTBS, PLT Mikro Hidro, dsb. Jika memungkinkan ke depan justri kita bisa berkontribusi terhadap barang dan jasa yang kita konsumsi saat ini.

  1. Asset to access

Aset perusahaan terdiri dari yang tangible dan intangible. Jika dahulu aset da informasi yang terkait dengan aset ini terbatas pada penguasaan salah satu divisi atau bidang saja, akan tetapi saat ini aset dan informasi aset hendaknya dibuka untuk semua komponen perusahaan sehingga jika masing-masing membuthkan dukungan atau ingin menggunakan aset tersebut dapat mudah untuk mengaksesnya.

Aset yang dimiliki perusahaan seringkali tidak bisa digunakan secara optimal untuk berkontribusi dalam pencapaian sasaran perusahaan. Pengelolaan aset yang mereka lakukan hanya sebatas pada inventarisasi aset saja dan jika telah masuk pada kategori aset non produktif maka akan dihapuskan. Padahal jika aset tersebut (termasuk aset non produktif) bisa dioptimalisasikan maka mungkin akan membantu perusahaan dalam penyediaan sumberdaya yang mendukung pencapaian sasaran perusahaan.

Aset perusahaan perkebunan sebagian besar adalah aset fisik yang optimalisasinya belum maksimal. Inventarisasi yang baik yang diikuti oleh strategi optimalisasi aset akan menjadikan aset yang mereka miliki bisa memberikan kontribusi maksimal untuk membantu pencapaian sasaran perusahaan.

  1. Linear to complex

Paradigma linear melihat bahwa segala sesuau berjalan berurutan secara sistematis, sehingga ketika memandang proses bisnis maka logika yang dikembangkan adalah mulai dari pemahaman kondisi perusahaan, sampai forcasting laba/rugi yang akan diterima. Pandangan bisnis ini bisa dijalankan dengan asumsi bahwa lingkungan bisnis bisa dipahami secara utuh dan controllable. Akan tetapi saat ini kondisi lingkungan bisnis yang bergerak dan berubah secara dinamis membutuhkan padangan bisnis yang lebih kompleks.

Bisnis tidak bisa lagi dipahami secara linear tetapi bisnis berjalan secara simultan, dimana faktor-faktor lain juga dimaskukkan ke dalam model bisnis sehingga bisa dikembangkan berbagai strategi kontinjensi. Misalnya saja ketika perusahaan akan mengembangkan produk baru yang sifatnya inovatif maka logika business plan tidak bisa lagi digunakan untuk merunning bisnis tersebut karena lingkungan yang volatile dan dinamis. Oleh sebab itu pemimpin perusahaan harus mengubah paradigma bisnisnya bahwa karena pengalaman yang minim dan kurangnya pemahaman mengenai lingkunga bisnis maka perlu memasukkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan bisnis misalnya beberapa alternative kesukaan pelanggan, model aftersales service-nya, dsb.

  1. Scarcity to abundance

Pemimpin seringkali mengeluhkan mengenai keterbatasan sumberdaya yang mereka miliki untuk menggrakkan strategi yang telah dirancang. memang sumebrdaya semakin hari akan semakin terbatas karena jumlahnya yang memang terbatas. Misalnya saja SDM, seringkali pimpinan perusahaan mengeluh sulitnya mencari SDM yang dapat membatu dirinya mencapai sasaran perusahaan.

Pandangan ini sebaiknya sudah mulai digeser karena pada dasarnya sumberdaya yang ada itu melimpah, tetapi memang tidak dalam kendali kita. Oleh karena itu perlu dikembangkan paradigma bahwa sumberdaya itu melimpah dan ada dimana saja hanya kita yang harus paham dimana sumberdaya yang kita butuhkan itu berada dan bagaimana mendapatkannya. Misalnya saja kita membutuhkan SDM yang memiliki pemahaman agribisnis yang bagus, maka jika tidak kita dapatkan di internal perusahaan maka kita bisa cari dimana saja, melaui, jaringan head hunters, social media, atau jaringan pertemanan lainnya.

  1. Universal to unique

Pemimpin perusahaan hendaknya memahami bahwa pandangan yang menyatakan bahwa konsumen produknya memiliki kebutuhan yang sama sehingga mereka memproduksi barang dan jasa yang sama setiap saat adalah pandangan yang sudah tidak relevan lagi. Karena pada kenyataaanya konsumen itu unik, kebutuhan mereka tidak sama antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu perusahaan perlu mengembangkan instrument untuk menangkap kebutuhan unik konsumen dan kemudian menjadi bahan masukan untuk mengembangkan desain produk yang sesuai dengan kebutuhan unik konsumen tersebut. Dengan menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen tersebut maka kepuasan konsumen dapat dipenuhi dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

Jika para pemimpin  perusahaan yang memiliki jiwa inovatif mampu memahami paradigma baru dalam berbisnis tersebut dan menerapkannya dlam bisnis, maka paradigma tersebut akan  mendorong mereka untuk meraih kesempatan sebanyak banyaknya, beragam kesempatan akan mereka temukan baik yang kecil maupun yang besar. Tinggal bagaimana menjadikan kesempatan tersebut sebagai momentum untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan. Tentu saja hal tersebut titak serta-merta bisa dilakukan. Pemimpin perusahaan perlu mereviu ulang model bisnisnya atau bahkan mengganti dengan model bisnis yang baru sehingga dapat mentransformasi peluang tersebut menjadi produk yang memiliki daya kompetitif yang tinggi.

Perlu juga diperhatikan maslah-masalah yang seringkali muncul ketika mecoba mengembangkan produk baru. Ada dua permasalahan utama yakni, pertama adalah masalah pendanaan. Jika pemimpin perusahaan tidak bisa meyakinkan keuntungan yang akan didapat akan jauh lebih besr dari risiko yang akan ditanggun, maka perusahaan akan mengalami kesulitan untuk pembiayaan produksi. Kedua, jika pimpinan perusahaan kurang jeli terhadap regulasi yang ada atau potensi berbeturan dengan badan pembuat regulasi maka jalan bisnis juga akan terhambat atau bahkan akan sulit untuk berkembang.

Advertisements


Categories: artikel

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

%d bloggers like this: