Peluang Emas dalam Perubahan Paradigma Bisnis (1)

aaeaaqaaaaaaaaufaaaajdy0nze2zgfhlwixztgtngy1ns1imznllwqzmdg1ndljodfhoa

Pendahuluan

Salah satu kunci kesuksesan perusahaan dalam peningkatan kinerja adalah memiliki perencanaan bisnis yang matang. Perencanaan perusahaan biasanya disusun berdasarkan pembacaan terhadap realitas internal dan eksternal yang kemudian dijadikan dasar dalam pengembangan strategi dan program jangka pendek dan jangka panjang. Titik kritis dalam penyusunan rencana bisnis adalah ketika menentukan kondisi internal dan eksternal perusahaan. jadi bukan seberapa detil perencanaan itu dibuat akan tetapi seberapa komprehensif dalam membaca realitas internal dan eksternal perusahaan. Kondisi internal perusahaan biasanya bisa dipahami dari data-data masa lampau dan kemudian diformulasikan dalam bentuk analisis terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan saat ini. Kondisi eksternal perusahaan  dipahami dengan mencerna data-data ekonomi, sosial, politik, regulasi, perkembangan teknologi dan lingkungan. Dengan perencanaan yang baik maka perusahaan akan memiliki arah yang untuk mencapai sasaran yang diharapkan dicapai bersama dan rangkaian akitivitas untuk mewujudkannya.

Kemampuan perusahaan untuk membaca kondisi internal dan eksternal ini sangat menentukan dalam kesuksesan pengembangan rencana perusahaan. Dua hal yang krusial dalam hal ini adalah validitas data ekstenal dan pndangan kita terhadap fakta. Misalnya ketika aktivitas perusahaan menghasilkan limbah, jika padangan bisnis kita melihat limbah sebagai barang sisa produksi yang harus dibuang maka perusahaan akan mengalokasikan sejulah dana untuk memproses pembuangan limbah. Tetapi jika padangan bisnis kita melihat bahwa limbah dapat diproses kembali dan dimanfaatkan untuk keperluan lain maka perusahaan akan mengalokasikan sejumlah dana untuk melakukan riset dan memproses limbah menjadi produk yang bisa dimanfaatkan kembali.

Dua pandangan bisnis tersebut akan memiliki dampak yang signifikan terhadap aktivitas perusahan dan ujungnya adalah peningkatan kinerja perusahaan. Obyeknya sama yaitu limbah tetapi karena paradigma bisnis yang berbeda maka akan menghasilkan langkah dan tindakan yang berbeda dan diakhir akan menghasilkan keluaran yang berbeda pula. Tulisan ini akan fokus membahas cara pandang perusahaan, disebut sebagai pardigma bisnis, dalam menyikapi fakta internal dan eksternal yang dia dapatkan. Asumsinya data yang mereka dapatkan tidak diragukan lagi validitasnya.

 

Pentingnya Mengevaluasi Paradigma Bisnis Kita

Padangan bisnis perusahaan didasari oleh keyakinan dan asumsi berfikir dalam melihat fakta. Dengan keyakinan dan asumsi tersebut perusahaan kemudian mengembangkan serangkaian strategi untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Akan tetapi jika serangkaian aktivitas yang kita jalani tidak mampu mencapai tujuan dan sasaran yang telah kita tetapkan mungkin salah satu sebabnya adalah keyakinan dan asumsi berfikir kita yang kurang relevan lagi. Sebagaiman kisah Nokia yang akhirnya harus menjual unit teleponnya kepada Microsoft karena lebih memilih pengembangan hardware dibanding software sehingga kalah dengan IOS dan Android. Begitu juga dengan Blackberry yang meyakini bahwa masa depan bisnis ada pada kunsumen level perusahaan sehingga tidak bisa memahami dorongan konsumen individu untuk mendapatkan alat komuikasi yang tidak sekedar untuk komunikasi tetapi juga sebagai alat untuk hiburan.

Berdasarkan fenomena tersebut di atas dapat disimpulkan sementara bahwa jika kinerja perusahaan ada kencerungan turun dari tahun ke tahun maka bisa jadi paradigma bisnis yang digunakan oleh perusahaan tidak kompatibel lagi sebagai pijakan untuk bersaing dan sudah saatnya mengevaluasi paradigma bisnis tersebut. Mengevaluasi paradigma bisnis yang selama ini dipakai bukan suatu perkara yag Judah karena menyangkit the way of thinking kita selama ini. Oleh karena itu sebaiknya pimpinan perusahaan menutup buku cara berpikir selama ini  dan mencari bentuk paradigma bisnis lain yang memberikan cara pandang baru dalam melihat lingkungan bisnis sehingga bisa menumbuhkan motivasi untuk meningkatkan daya saing. Caranya adalah dengan banyak membaca baik dari seminar, workshop, pelatihan, maupun membaca buku.

Para pelaku bisnis saat ini dihadapkan pada tantangan baru yakni cara dan model berbisnis dengan paradigma baru yang didasarkan pada keyakinan dan asumsi berfikir yang berbeda. Paradigma baru akan mendorong pelaku bisnis mengembangkan model bisnis dan teknik produksi yang baru, mengembangkan bentuk kolaborasi dan kerjasama yang baru, pendanaan bisnis dan pola kepemilikan yang baru, dan format pembelajaran yang baru. Jika tidak ingin tertinggal maka pelaku bisnis perlu untuk memahami perubahan paradigma yang saat ini sedang terjadi. Pemahaman tersebut akan menumbuhkan kepekaan dalam membaca realitas bisnis yang terjadi saat ini. Jika para pelaku bisnis telah memahami baradigma baru dalam bisnis maka mereka akan mampu melihat banyak peluang emas dalam bisnis yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kinerja perusahaan di masa yang akan datang.

Mengutip rumusan dari THNK forum, setidaknya ada enam perubahan paradigma yang akan mengubah cara kita memandang dunia dan bisnis. Perubahan paradigma ini akan membantu pemimpin yang inovatif untuk dapat menemukan banyak kesempatan dalam banyak bidang dan mengembangkan model bisnis yang baru. Tetapi sebelum membahas lembih lanjut ada baiknya kita memahami terlebih dahulu perbedaan antara tren dan pradigma

 

Tren vs paradigma

Tren adalah kecenderungan kejadian yang muncul di dunia yang bisa mengubah realitas yang kita pahami saat ini. Para pemerhati tren biasanya akan mendeteksi sinyal yang lemah dari lingkungan bisnis dan riak-riak yang semakin membesar sehingga diprediksi menjadi kecenderungan yang memiliki kekuatan besar. Jika kecenderugan tersebut mengakibatkan perubahan yang mendasar dan signifikan dalam kehidupan bisnis atau sosial masyarakat maka disebut sebagai megatrend. Di dalam bisnis megatrend adalah perubahan massif dalam dunia kita yang akan berpengaruh besar terhadap kita semua seperti meningkatnya kelangkaan terhadap sumberdaya, semakin banyak populasi yang tidak produktif, dan ketergantungan kita terhadap internet. Tren selalu berbasis fakta dan didukung data dan dapat diukur.

Sedangkan paradigma adalah cara pandang untuk melihat dunia. Paradigma adalah prespektif terhadap fakta yang kita miliki. Misalnya saja paradigma berbisnis perkebunan yang muncul sampai tahun 1970an adalah bahwa perusahaan mempekerjakan karyawan dalam jumlah yang banyak itu merupakan kondisi yang normal, dimana selain pertimbangan bisnis maka ada pertimbangan kemanusiaan dan pembangunan negara untuk menyerap sebanyak-banyaknya tenaga kerja untuk menggerakkan roda pembangunan. Tetapi ketika kondisi bisnis mulai berubah karena persaingan dengan perusahaan lain semakin kuat maka mempekerjakan karyawan dalam jumlah banyak bukanlah sesuatu yang baik untuk bisnis sehingga kemudian mulai muncul paradigma baru bahwa perusahaan harus meningkatkan efisiensiensi dalam mempekerjakan karyawan. Perkembangan paradigma baru ini akan lebih powerful dan mendorong perusahaan untuk melakukan perencanaan ulang kebutuhan karyawan sehingga diharapkan akan berkontribusi dalam menurunkan harga pokok produksi.

Paradigma baru membantu kita untuk melihat situasi dari perspektif yang berbeda, pemimpin yang inovatif membutuhkan kewaspadaan  terhadap apa yang disebut sebagai observational selection bias. Apakah itu? untuk emmudahkan memahami istilah tersebut maka bisa diilustrasikan sebagai berikut;; jika seseorang tertarik untuk membeli kendaraan tertentu, misalnya innova, maka orang tersebut cenderung tidak akan lagi melihat yang lainnya. Yang ada di dalam pikirannya adalah bahwa mobil innova adalah mobil terbaik, padahal di pasaran banyak mobilsekelas Innova yang kualtiasnya belum tentu lebih buruk. Jadi karena preferensi pribadi kita yang secara sadar atau tidak sadar telah menjadikan kita hanya melihat fakta yang ada melalui salah satu lensa paradigma saja. Melihat dunia melalui lensa yang berbeda memunculkan keuntungan yang besar, tetapi kita harus memastikan apakah pendekatan baru yang kita gunakan merupakan cara yang efektif dalam mengatasi masalah atau justru kita hanya menjadi korban terhadap penglihatan yang ingin kita lihat saja?  inilah yang disebut sebagai observational selection bias. Bersambung

Advertisements


Categories: artikel

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

%d bloggers like this: