Model Bisnis untuk Inovator

christensen-hard-truth-business-model-innovation-1200-1200x627

Beberapa kali saya bertemu dengan orang yang memiliki ide hebat dalam berbisnis berupa ide mengenai produk baru atau layanan yang belum ada sebelumnya.  Tetapi mereka ragu untuk mencoba merealisasikan ide tersebut. Mereka merasa bahwa ide tersebut terlalu beresiko untuk dicoba karena mereka belum paham seberapa besar tingkat kegagalannya atau mereka tidak tahu bagaimana tahapan agar ide tersebut bisa terwujud dalam kenyataan?

Jika mereka datang kepada profesor bisnis atau konsultan bisnis maka sebagian besar mereka akan mengarahkan agar pemilik ide tersebut membuat business plan. Dalam business plan tersebut akan diidentifikasi konsumen yang akan dilayani, penjelasan detil produk dan jasa yang akan dipasarkan, perkiraan besarnya pasar yang ada, perkiraan pendapatan dan keuntungan yang diroleh berdasarkan proyeksi dan pricing, biaya, dan volume pertumbuhan penjualan. Sangat logis bukan? tetapi di dunia nyata ternyata ada juga para new venture creation yang tidak menggunakan logika itu untuk memulai bisnisnya.

Adalah Jenn Hyman, seorang mahasiswi sekolah bisnis di Harvard Business School mencoba cara yang lain karena merasa bahwa business plan hanya akan optimal jika dikembangkan dalam bisnis yang relatif pasti atau pengusaha memiliki pemahaman yang untuk mengenali lingkungan bisnis internal dan eksternal. Sedangkan jika diadopsi untuk bisnis yang tingkat ketidakpastiannya tinggi maka pendekatan dengan menggunakan business plan tidak banyak berguna. Lantas apa yang dilakukan Hyman?

Ketika dia menyadari bahwa ada peluang untuk mengembangkan bisnis persewaan gaun wanita maka dia langsung mengujicobakan ide tersebut kepada segmen pasar yang dituju. Ada tiga tipe desain eksperimen yang dia lakukan pada target responden yang berbeda. Desain eksperimen tersebut dikembangkan secara bergulir. Maksudnya adalah dia mendesain satu model deliveri jasa penyewaan gaun pada mahasiswi di universitasnya, ketika hasilnya kurang memuaskan maka kemudian  masalah-masalah yang muncul  diinventarisir dan dicarikan jalan solusinya dan kemudian diujicobakan lagi pada target audien yang berbeda.

Ternyata setelah eksperimen ketika baru ketemu model yang pas untuk mendeliveri bisnis sewa gaunnya. Indikator bahwa model deliveri bisnis tersebut sudah pas adalah klebih dari 50% audien yang menjadi target menyatakan akan menyewa gaun kepada mereka jika model bisnisnya seperti yang diujicobakan. Setelah ketemu model bisnisnya maka tantangan selanjutnya adalah mendesain inbound logistiknya, jika menggunakan value chain Porter sebagai framework berpikirnya. Yaitu memastikan bahwa setiap order dari konsumen bisa dilayani dengan baik. Ini terkait dengan modal, material, kesiapan SDM dan teknologi informasi. Jika inbound logistiknya sudah bisa dipastikan maka langkah selanjutnya adalah melancarkan kegiatan marketing dan after sales service.  Framework bisnis bisa dikembangkan menggunakan business model canvas yang dikembankan oleh Ostelwarder & Pigneur. Prosesnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

anendtoendinnovation

Menggunakan nama Rent the Runway jasa penyewaan gaun dan asesoris yang digagas Hyman berkembang pesat. Order sewa gaun terus tumbuh dan perusahaan dapat berekspansi ke beberapa kota di Amerika. Silakan cek websitenya disini. Model bisnis yang dikembangkan Hyman ini patut anda coba jika ide bisnis anda memiliki ketidakpastian yang tinggi. Selamat mencoba.

Advertisements


Categories: artikel

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

%d bloggers like this: