The New Normal

new-normal

 

Lingkungan bisnis telah berubah secara fundamental dalam beberapa tahun terakhir ini baik secara ekonomi , sosial, politik, teknologi dan budaya.  Krisis ekonomi yang beruntun terjadi sejak 1998, 2000, dan terakir 2008 telah membuat para pebisnis sadar bahwa kondisi ekonomi dunia tidak lagi seperti dahulu. Globalisasi yang menggejala di hampir seluruh pelosok dunia dan berujung pada Go Local kembali terutama dilakukan oleh Inggris dan Amerika berpengaruh besar terhadap situasi bisnis dunia. Selain itu perkembangan teknologi terutama teknologi informasi dengan berbasis internet telah memakasa para pebisnis mengubah pola komunikasi bisnisnya mengikuti perkembangan  yang ada. Walaupun kondisi bisnis tidak menentu tetapi bagi perusahaan yang telah mempersiapkan dengan baik maka sebetulnya akan terbuka banyak peluang untuk diraih untuk menjadikan perusahaan unggul dan sukses.

Para pemikir bisnis ada yang menyebut kondisi ini sebagai sebagai situasi VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, dan Ambigous). Beberapa fenomena yang muncul telah memperkuat guhaan para pemikir tersebut. Resesi ekonomi yang datang semakin sering, harga komoditas yang sulit diprediksi, ketidakjelasan arah kebijakan pemerintah, pola perilaku pelanggan yang tidak lagi sama dengan sebelumnya adalah beberapa contoh mengenai perubahan kondisi bisnis yang terjadi.

Sebagian orang menganggap bahwa fenomena tersebut merupakan anomali, tetapi melihat tren yang terjadi sebetulnya anomali-anomali tersebut telah terjadi paling tidak lebih dari bebera patuh dan jika kita perhatikan maka dapat digambarkan sebagai sebuah pola baru yang sangat berbeda dari pola perilaku lingkungan bisnis sebelumnya. Perubahan yang paling terlihat adalah kondisi setelah terjadinya resesi ekonomi pada dekade ini dan semakin kuatnya arus globalisasi dan semakin tingginya pertumbuhan pengguna internet.

Para pelaku bisnis dihadapkan pada situasi bisnis yang telah berubah dan kemudian mendorong mereka untuk tidak lagi berfikir berdasarkan frame siklus bisnis yang biasa dipakai, tetapi harus melakukan restrukturisasi usaha untuk menghadapi tuntuan perubahan kondisi lingkungan bisnis. Restrukturisasi di sini adalah perubahan secara fundamental dari praktek berbisnis yang orientasinya adalah berusaha menyesuaikan dengan lingkungan bisnis yang baru. Untuk beberapa organisasi, yang menjadi fokus mereka dalam melakukan restrukturisasi adalah bagaimana perusahaan dapat bertahan hidup, tetapi bagi banyak perusahaan lain situasi saat ini masih gagap belum bisa melihat fenomena perubahan yang terjadi sehingga menjadikan pandangan mereka masih diselimuti kabut ketidakjelasan.

Mereka belum bisa membaca apa yang sebenarnya terjadi saat ini dan dimana posisi mereka dalam lingkungan bisnis baru akibat banyaknya perubahan yang terjadi. Ada sebagian besar dari mereka yang mengenggap bahwa situasi ini bersifat sementara dan akan kembali pada kondisi sebelumnya sehinga mereka tetap menggunakan paradigma lama dalam memandang lingkungan bisnis. Penurunan volume penjualan, rendahnya harga jual, dan laba yang semakin turun dianggap sebagai fenomena lumrah dalam berbisnis dan hanya berharap kondisi lingkungan bisnis akan segera kembali seperti sebelumnya. Tetapi ada sebagian perusahaan yang sadar mengenai perubahan-perubahan yang konsisten terjadi dalam dekade ini. Mereka memandang bahwa lingkungan bisnis telah berubah menuju kenormalan baru.

Sebuah situasi lingkungan bisnis yang berbeda dari sebelumnya dan cenderung tidak akan lagi kembali pada situasi bisnis sebelumnya. Bagi mereka pertanyaan yang sering muncul dari para pelaku usaha adalah bagaimana kondisi kenormalan baru pada lingkungan bisnis itu? Para ahli ekonomi dan manajemen memandang bahwa kenormalan baru dalam lingkungan bisnis tersebut terbentuk karena pengaruh dari berbagai kekuatan yang muncul dari krisis ekonomi, globalisasi dan pertumbuhan penggunaan internet di dunia.

Krisis ekonomi telah menjadikan sistem keuangan yang dibangun dan dijalankan oleh perusahaan selama ini tidak mampu lagi menyikapi situasi yang tidak menentu dengan baik. Terbukti banyak perusahaan yang kolaps atau paling tidak mengalami situasi keuangan yang buruk akibat krisis ekonomi. Ketika beberapa kali krisis telah terjadi dan perusahaan senantiasa menerima dampak yang serius dan memerluakn waktu recovery yang cukup lama maka bisa dikatakan sistem pengelolaan keuangan perusahaan sudah tidak kompatibel digunakan untuk merespons pola perilaku keuangan baru di lingkungan bisnis. Sedangkan kuatnya pengaruh globalisasi dan penggunaan internet telah menyebabkan perilaku konsumen dalam hal memilih produk, mengakses informasi terhadap produk yang diinginkan juga telah berubah.

Akibat globalisasi dan pertumbuhan pengguna internet dunia informasi mengenai produk baru dan harga semakin mudah untuk didapatkan. Pelanggan dapat membandingkan bebrbagai produk yan dibutuhkan dari informasi yang tersedia di internet. Perusahaan yang tidak mengikuti perubaha pola perilaku ini akan merasakan dampaknya. Hal ini sering ditandai dengan kondisi jumlah penjualan produk ataupun jasa yang cenderung stagnan atau bahkan dalam beberapa tahun terakhir menurun, dan volume dan kualitas produk yang tidak mengalami pekembangan karena munculnya kompetitor baru yang menawarkan kemudahan dalam berbelanja.

Fungsi manajemen yang terpengaruh dengan perubahan ini adalah sistem pemasaran dan sistem produksi. Pada aspek politik dan regulasi pemerintahan, perubahan lingkungan bisnis ini telah mendorong mereka untuk melakukan perbaikan terhadap regulasi yang telah ada. Fenomena skandal keuangan Bank Century, atau yang paling mutakhir adalah resahnya para pemngemudi dan pengusaha taksi atau munculnya jasa layanan transprotasi Go Jek dan Uber merupakan contoh bagaimana pemerintah kemudian meresponsnya dengan merubah regulasi yang ada sehingga dapat mencegah terjadinya situasi bisnis yang memburuk.

Di sektor keuangan pemerintah berusaha untuk mengantisipasi terjadinya krisis finansial dalam industri perbankan dengan melakukan modernisasi sistem regulasi pengelolaan keuanga perbankan dan perusahaan yang mengarah kepada transparansi dan keterbukaan sehingga kontrol bisa dilakukan lebih ketat. Perubahan dalam aspek keuangan tersebut menjadikan pemerintah mensyaratkan beberapa hal yang harus dipenuhi seperti standar pencatatan akuntansi yang mengacu pada IFRS, standar manajemen risiko dan standar sistem good corporate governance.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam kondisi lingkungan bisnis yang mengarah pada kenormalan baru ini adalah adanya usaha untuk melakukan inovasi teknologi secara terus menerus dan peningkatan penghargaan terhadap pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia. Perkembangan teknologi saat ini telah mencapai pada tahap yang sangat mengagumkan sehingga dapat diadopsi untuk menunjang peningkatan efisiensi dalam berproduksi. Teknologi nano, robotic, aplikasi komputer dan beberapa penemuan mutakhir lainnya terbukti mampu mendorong perusahaan untuk melakukan produksi secara lebih cepat dan efisien.

Kondisi ini yang mendorong para pemiliki modal untuk mengarahkan target yang akan dicapai bergeser dari yang semula fokus pada aspek finansial menjadi lebih ke arah rekayasa genetic, pengembangan software, dan energi yang ramah lingkungan. Ketika kenormalan baru telah hadir di hadapan kita maka sebenarnya kondisi bisnis dan ekonomi tidak akan lagi berbalik ke arah sebelumnya. Mau tidak mau para pelaku bisnis harus beradaptasi dengan lingkungan bisnis baru tersebut atau akan mati. Para pimpinan perusahaan perlu memperhatikan dan mempersiapkan benar organisasi mereka agar bisa meraih sukses pada kenormalan baru ini dan harus fokus pada apa yang telah berubah dana pa yang secara mendasar tetap sama dari pelanggan, perusahaan, dan industri mereka.

Kerangka berfikir untuk perbaikan yang bisa digunakan adalah sebagai berikut. Jika lingkungan berubah maka salah satu tanda yang paling jelas adalah menurunnya volume penjulaan produk dan jasa. Oleh karena itu perusahaan perlu mereviu strategi yang dijalankan. Jika telah mereviu strategi maka langkah selanjutnya adalah memperbaiki sistem organisasi, keuangan, dan SDM yang ada. Jika perubahannya fundalmental maka perusahaan perlu mempertimbangkan untuk merubah visi, misi dan tujuan perusahaan.

Advertisements


Categories: artikel

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

%d bloggers like this: