Peran Decision Maker dalam Performance Appraisal

12674916_how-to-harness-the-self-enhancement-bias_3e82b108_m

Decision maker dalam organisasi akan termotivasi untk meningkatkan kinerja di masa depan dengan melihat akar masalah dan kemudian mencari solusinya. Agar kinerjanya mencapai apa yan diharapkan, yang dilakukan oleh para pengambil keputusan pertama kali adalah memutuskan dulu sasaran kinerja yang jelas dan kemudian menentukan moderately ambitious aspiration level berdasarkan historical performance level dan perbandingan performance dengan yang lain. Setelah beberapa periode waktu dilampaui, para pengambil keputusan organisasi akan mengobservasi kembali hasil kinerja dengan membandingkan sasaran yang telah ditetapkan dengan realisasi yang didapatkan.

Pengambil keputusan akan menemui masalah jika kinerjanya di bawah level aspirasi, maka kemudian mereka akan mencari solusi untuk mengatasi maslah tersebut. Mereka akan meningkatkan usaha untuk melakukan perubahan dan memilih serangkaian solusi potensial yang memiliki risiko yang lebih besar. Maka fungsi pengambil keputusan adalah sebagai pemecahan masalah, performance feedback, membantu pengambil keputusan untuk mengidentifikasikan masalah utama dan kemudian mencari solusinya, mengubahnya dalam aktivitas dan memberikan toleransi risiko yang tinggi.

Dapat dikatakan bahwa pengambil keputusan secara temporer konsiten dalam mengevaluasi kinerja. Tetapi  konsistensi para pengambil keputusan tersebut memiliki konteks tertentu. Model konvensional asesmen kinerja menyarankan bahwa untuk memprediksi perilaku, asesmen subjektif para pengambil keputusan harus dipahami. Keterbatasan kognisi merupakan sumber dari pengaruh subjektivitas asesmen kinerja, tetapi dalam berbagai kesempatan juga bertindak rasional untuk mengembangkan sasaran pribadinya yang mungkin tidak secara penuh selaras denga tujuan organisasi.

Manusia memiliki serangkaian motif ketika mengevaluasi dirinya sendiri, termasuk self assessment (harapan mendapatkan hasil yang akurat dengan mengases dirinya sendiri), self-improvement (harapan untuk memperbaiki dirinya sendiri di masa yang akan datang), self verification (harapan untuk melakukan konformasi terhadap evaluasi diri yang telah dilakukan sebelumnya), dan self enhancement (harapan untuk melihat dirinya sebagai aspek positif dirinya, memaknai dirinya sebagai juara tanpa memperdulikan siapa sebenarnya yang berkinerja).

Para pengambil keputusan seringkali mengubah dirinya dari problem solving mode menjadi self enhancing mode dimana standar evaluasi kinerja tidak lagi berasal dari eksogenus , dimana sering diasumsikan dalam penelitian mengenai feedback. ketika kinerja jatuhd ibawah level aspirasi maka self enhance kemudian diaktivasikan dengan  mencari cara untuk meredefinisi kinerja. Sehingga memasukkan unsur strategi self-enhancement dalam asesmen kinerja dan identifikasi kondisi dimana self-enhancement sering terjadi akan menjadikan akurasi dalam penilaian kinerja menjadi lebih baik lagi.

Advertisements


Categories: artikel

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

%d bloggers like this: