Mengembangkan Job Design

job-design

Organisasi saat ini menghadapi lingkungan bisnis yang semakin tidak menentu, kompleks dan saling terkoneksi satu dengan yang lain dan kemudian mendorong organisasi untuk lebih fleksible dan secara cepat menciptakan kapabilitas baru. Perubahan lingkungan bisnis ini juga menyebabkan perubahan pola kontrak karyawan baru  menjadi lebih tidak permanen dan menggunakan pola blended workforce serta mengubah keteraturan dalam pengerjaan tugas secara signifikan dalam dunia kerja.  Blended workfoce adalah pola perencanaan karyawan yang memadukan antara berbagai status karyawan misalnya antara karyawan tetap, kontrak dan casual, karyawan part time dsb. Salah satu contoh dari dampak dari lingkungan bisnis yang tidak menentu adalah  pekerjaan saat ini didesain untuk memberikan otonomi lebih utuk merespon meningkatnya ketidapastian lingkungan dan meningkatnya interdependensi dala merespon semakin meningkatnya kompleksitas lingkungan bisnis. Lebih dari itu perubahan teknologi dan meningkatnya kompetisi mendorong time pressure yang lebih besar dan kebutuhan kognisi yang lebih tinggi untuk banyak karyawan. Maka dalam kondisi yang seperti ini tantangan yang dihadapi oleh organisasi terkait dengan formalisasi kerja.

Para peneliti telah cukup lama berdebat mengenai kelebihan dan kelemahan dari formalisasi. Walaupun banyak peneliti yang menyatakan bahwa formalisasi akan memunculkan kelemahan ketika dihadapkan pada lingkungan bisnis yang dinamik. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa formalisasi desain pekerjaan menjadi semakin tidak diterima  di organisasi modern. Tetapi ketika ada pendapat baru dari para ahli yang menyatakan bahwa efek dari formalisasi tergantung dari cara mengimplementasikannya dan job design adalah kunci dari  cara mengimpelemntasikan formalisasi tersebut maka formalisasi saat ini menjadi lebih menguntungkan  dan mampu untuk mendorong kesuksesan dalam bekerja pada konteks pekerjaan saat ini. Tentu saja pendapat para ahli yang berbeda ini akan membingungkan bagi sebagian orang tetapi justru akan menjadi celah bagian akademisi lain untuk membahasnya kembali dalam artikel lain. Sebenarnya jika kita ingin membahas formalisasi desain pekerjaan maka kita harus merujuk pendapat pertama yang mengajukan formalisasi desain jabatan yakni Weber (1947).

Sebenarnya konsep formalisasi telah lama menjadi dasar bagi teori organisasi dan desain pekerjaan, tetapi sayangnya  yang sering terjadi adalah sering justru menimbulkan penyakit bagi organisasi karena organisasi kemudian akan menjadi lambat dalam merespon perubahan dan kaku. Namun sebenarnya konsep formalisasi oleh Weber (1947) dalam organisasi tipe birokrasi ideal, memiliki fitur inti yakni formalisasi, spesialisasi, dan sentralisasi. tetapi kemudian jika diwujudkan dalam dunia nyata ternyata memiliki bentuk  yang berbeda. Organisasi birokrasi identik dengan prosedur yang kaku dan panjang sehingga lambat dalam merespon perubahan. menurut Weber formalisasi ditunjukkan pada adanya aturan tertulis, prosedur dan instruksi, dan memiliki perbedaan yang nyata antara spesialisasi ataupun sentralisasi. Dimana terlihat dari pembagian pekerjaan  terhadap setiap posisi yang ada di dalam organisasi  dan kewenangan untuk mengambil keputusan. Maka walaupun formalisasi sering disamakan dengan spesialisasi dan sentralisasi, tetapi sebenarnya formalisasi lebih jauh dari itu yakni formalisasi butuh  otonomi yang cukup untuk mengambil keputusan. Konsepsi inti dari Weber mengenai formalisasi adalah serangkaian prosedur yang menjadi panduan dalam bertidak untuk memastikan terjadi koordinasi kerja yang efektif. Koordinasi kerja yang efektif hanya akan terjadi jika adanya otonomi yang jelas. Maka agar formalisasi bisa terhindari dari patologi organisasi seperti yang telah dijelaskan di atas maka di dalamnya membutuhkan beberapa kompetensi yang berbeda untuk organisasi seperti kecepatan (speed), efisiensi, dan, reliables, serta kinerja yang konsisten. Formalisasi tidak hanya terjadi pada unit pekerjaan saja tetapi juga pada unit tim. Adanya kompetensi tersebut sangat penting karena nantinya akan terkait dengan hubungan antara formalisasi dengan kinerja tim (team performance).

 

Advertisements


Categories: artikel

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

%d bloggers like this: