7 Motivasi Keluar Dari Zona Nyaman

comfort-zoneDalam berkarir, seseorang akan mulai terbiasa dengan apa yang biasa ia jalani atau kerjakan. Tak jarang pula yang merasa nyaman dan tidak bisa “move on” dari lingkungan kerja ataupun dunia kerja yang sekarang digelutinya. namun ketika seseorang ingin berkembang dalam karirnya salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mencoba keluar dari zona nyamannya.

Keluar dari zona nyaman bukan hanya merupakan pilihan, melainkan keharusan. Orang yang tidak berani keluar dari zona nyaman tidak akan bisa maju. Bahkan, bisa jadi, ia tidak dapat bertahan hidup. Istilah populernya, ia akan mengalami seleksi alam.

Berikut tujuh cara yang mungkin dapat memotivasi anda sukses keluar dari zona nyaman:

1. Realistis

Secara umum, ada tiga zona yang dapat kita temui dalam kehidupan ini. Zona pertama adalah zona nyaman. Zona ini merupakan zona yang sudah sangat familiar bagi Anda. Dan, karena familiar, Anda merasa nyaman di dalamnya.

Zona yang kedua adalah zona belajar (learning zone). Berada di zona ini membuat Anda cemas, tetapi kecemasan itu masih dapat Anda atasi. Contoh zona ini yaitu situasi penuh tantangan, yang pernah Anda alami sebelum-sebelumnya. Contoh: Sudah beberapa kali Anda mengikuti meeting bersama direksi. Anda pun tidak memiliki fobia untuk mempresentasikan rencana kerja Anda. Menghadapi situasi itu, sekali pun Anda tidak memiliki fobia, niscaya tetap muncul kecemasan di dalam diri Anda. Ini dikarenakan, banyak keputusan yang harus Anda buat. Rasa cemas ini sangat rasional dan masih dapat ditoleransi. Anda pun masih dapat mengatasinya dengan berbagai cara.Para pakar menyebut kecemasan ini sebagai optimal level of anxiety (tingkat kecemasan yang moderat yang masih dapat dihadapi).

Ketiga, zona panik alias panic zone. Zona ini merupakan zona yang sangat asing bagi Anda. Dinamakan zona panik karena bisa jadi, Anda belum pernah sekali pun berada di dalam zona ini, yang menyebabkan Anda panik berada di dalamnya. Atau, bisa jadi juga, Anda sudah pernah berada di dalam zona ini, tetapi Anda memiliki masalah adaptasi di dalamnya.

2. Belajar sesuatu yang baru

Setidaknya, mempelajari sesuatu yang baru memiliki dua keuntungan. Pertama, kita membiasakan diri dalam situasi yang baru. Berada di dalam situasi yang baru niscaya membuat Anda merasa cemas. Nah, dengan terbiasa mempelajari sesuatu yang baru, Anda pun terbiasa menghadapi kecemasan. Dan, saat Anda terbiasa dengan kecemasan, Anda pun tidak lagi kaget dengan perasaan seperti itu.

Keuntungan yang kedua yaitu, dengan mempelajari hal-hal baru, pengetahuan Anda bertambah, demikian juga dengan skill Anda. Pengetahuan dan skill baru ini dapat Anda gunakan sebagai senjata untuk menghadapi kondisi baru.

3. Perluas sudut pandang

Untuk keluar dari zona nyaman, Anda perlu memperluas perspektif anda. Ini dikarenakan, situasi baru harus didekati dengan perspektif yang berbeda. Orang-orang yang berada di dalam situasi itu memiliki pandangan yang sama sekali berbeda dengan pandangan Anda.

Salah satu cara memperluas sudut pandang yaitu dengan bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah Anda kunjungi. Anda dapat mempelajari tradisi, budaya, dan situasi yang berbeda. Selain itu, Anda juga perlu terus belajar dan membaca buku. Membiasakan diri rutin membaca buku secara otomatis memperluas sudut pandang Anda, membuat Anda menjadi pribadi yang open-minded/berpikiran terbuka.

comfort-zone4. Tentukan tujuan

Keluar dari zona nyaman akan berkali lipat lebih sulit manakala Anda tidak memiliki tujuan yang jelas. Ini sama artinya Anda tidak memiliki persiapan; Anda sama sekali buta dengan situasi baru; Anda sama sekali tidak tahu apa yang ada di luar sana.

Jika Anda tidak siap dengan kegagalan, maka keluar dari zona nyaman justru akan membuat Anda jera. Oleh karena itulah, Anda perlu mempersiapkan diri manakala Anda ingin keluar dari zona nyaman. Salah satu persiapan untuk menghadapi situasi yang baru yaitu menentukan tujuan yang jelas. Menentukan tujuan berarti mengetahui ke mana Anda akan pergi, mengetahui risiko apa saja yang akan Anda hadapi, orang-orang macam apa yang akan menjadi teman Anda, juga orang-orang yang seperti apa yang akan Anda hadapi.

5. Bersosialisasi dengan orang-orang baru

Kelua dari zona nyaman berarti keluar dari lingkungan di mana Anda berada. Ini artinya Anda berurusan dengan orang-orang baru. Nah, persiapkanlah diri Anda untuk keluar dari zona nyaman dengan cara memperbanyak teman, bersosialisasi dengan berbagai kalangan.

Luasnya pergaulan dapat membantu mengurangi kecemasan Anda manakala berada di dalam situasi yang asing. Setidaknya, orang-orang yang baru Anda kenal dapat membantu Anda mengadapi situasi yang baru. Ingat, mereka adalah orang-orang yang sudah familiar dengan situasi itu. Dengan demikian, ketika Anda sudah mengenal mereka, mereka pun dengan senang hati akan membantu Anda.

6. Hindari perfeksionisme

Salah satu penyebab kecemasan yaitu terlalu berharap meraih hasil yang sempurna. Tinggal di dalam situasi yang familiar membuat Anda nyaman di dalamnya. Mengapa? Karena, kefamiliaran menjadikan Anda ahli. Dan, saat Anda menjadi ahli, Anda lebih mudah meraih kesempurnaan.

Orang yang perfeksionis takut berada di dalam situasi yang baru, melakukan sesuatu yang baru, yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Karena, ia takut kalau-kalau hasilnya mengecewakan, kalau-kalau ia gagal. cenderung kurang berani mengambil resiko. Oleh karena itulah, agar Anda tidak canggung dengan situasi baru, hindari perfeksionisme. Maklumilah diri Anda jika Anda berbuat salah. Tanamkan di dalam benak Anda bahwa Anda gagal karena Anda masih belum mengenal situasi baru tersebut.

7. Merubah Perspektif

Pikiran turut memengaruhi bagaimana Anda menghadapi situasi baru. Pikiran turut memengaruhi perasaan dan perilaku Anda.

Demikian juga ketika Anda memasuki situasi yang baru. Pikiran-pikiran negatif, yang tidak mendukung bisa memengaruhi perasaan Anda.

Berada di dalam situasi baru saja sudah cukup membuat Anda cemas, apalagi diperparah dengan pikiran-pikiran negatif tentang situasi asing itu. Berpikir bahwa keadaan di luar sana penuh dengan bahaya yang bisa menjatuhkan diri Anda akan membuat rasa cemas dan takut Anda semakin menjadi-jadi.

Pemikian-pemikiran yang tidak mendukung ini dapat Anda hilangkan dengan cara mencari bukti-bukti yang mendukung pemikiran itu serta bukti-bukti yang menyangkalnya.

Dengan mengetahui bukti-bukti yang menyangkal pikiran Anda, kecemasan Anda berkurang karena Anda menyadari bahwa pikiran-pikiran itu tidak masuk akal. Anda sadar bahwa kecemasan sungguh tidak diperlukan untuk menghadapi situasi itu.

Sementara itu, dengan bukti yang mendukung pemikiran Anda, Anda dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan yang digambarkan oleh pemikiran itu.

lifebeginssmall

 

 

 

(sumber: Aquariuslearning.co.id; http://humancapitaljournal.com/)

Advertisements


Categories: artikel

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

%d bloggers like this: