Renewable Energy dan Kelestarian Lingkungan : Kontribusi Industri Perkebunan Sawit

Agustus 2014 | oleh Muhamad Mustangin

Industri perkebunan memiliki kekhasan dalam bahan baku maupun penggunaan energi, terutama Pabrik Gula dan Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit. Untuk memenuhi kebutuhan energi dalam proses pengolahan bahan baku menjadi bahan jadi, menggunakan bahan bakar dari limbah padat pabrik sebagai bahan bakar boiler untuk menghasilkan energi uap yang digunakan untuk proses pengolahan maupun pembangkitan energi listrik secara mandiri. Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PPKS) meskipun menggunakan sabut, cangkang dan tandan kosong sebagai bahan bakar boiler namun masih terdapat sisa sebagai limbah, sedangkan tandan kosong disebar di areal tanaman sawit. Hal ini mengakibatkan terjadinya fermentasi sehingga mengakibatkan timbulnya gas-gas metana yang merusak lapisan ozon sehingga menjadi salah satu penyebab terjadinya Global Warming. Apabila digunakan sebagai pupuk, tandan kosong memerlukan waktu yang sangat lama untuk menjadi kompos. Hal ini menyebabkan kumpulan limbah dari sabut, cangkang, maupun tandan kosong menjadi limbah padat yang terus bertambah dan harus diatasi.

Untuk mengatasi hal tersebut diatas, maka limbah padat tersebut perlu diolah ataupun dibakar sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Selain mengatasi limbah padat, maka perkebunan dapat mensuplai energi listrik sehingga bisa menjadi salah satu solusi krisis energi di Indonesia terutama di daerah. Dalam penggunaan bahan bakar limbah ini, di lingkungan BUMN perkebunan yang memiliki komoditas kelapa sawit maupun perkebunan swasta besar agar dapat menentukan kebijakan pembangunan pembangkitan energi di Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PPKS). Perlu direncanakan nilai kapasitas pembangkit terhadap ketersediaan bahan baku dari beberapa PPKS. Keuntungan lain adalah dengan memanfaatkan dana dari negara-negara pemberi program CDM (Clean Development Mechanism) dalam carbon trading sehingga menambah pendapatan secara finansial karena mengurangi polusi karbon dioksida (CO2) yang dibandingkan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil. Bagi lingkungan, limbah padat kelapa sawit dapat dimanfaatkan sehingga mengurangi volume limbah di pabrik maupun di kebun. Hal itu akan mengurangi efek gas metana yang dihasilkan oleh limbah apabila hanya di sebar di kebun.

Potensi Energi

Selain cangkang dan fiber, tandan kosong diharapkan menjadi salah satu bahan bakar alternatif untuk boiler sehingga dapat mengatasi permasalahan limbah. Quack, Knoof, Stessen (1999), Energy From Biomassa, review of combustion and gassification, biomass merupakan bahan bakar yang mempunyai nilai kalor tertentu tergantung elemen yang terkandung dalam sebuah biomass. Elemen tersebut berupa Karbon, Hidrogen, Oksigen, Nitrogen dan Sulfur. Nilai kalor biomasa selain ditentukan oleh elemen yang terkandung didalamnya juga ditentukan oleh kandungan moisture didalamnya. Makin besar prosentase kandungan moisture, makin kecil nilai kalori yang terkandung. Korelasi antara moisture content dengan nilai kalor disajikan dalam Gambar berikut.

renewable energy renewable enery2

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Engineering and Consulting Firms Association, Japan dalam Preliminary Feasibility Study on The Palm Oil Mill Wastes-fired Power Generation Systems and CDM Project for Rural Electrification in Sumatra, Indonesia mengenai potensi energi di industri sawit di pulau sumatra diperoleh potensi energi terbangkit terhadap limbah padat yang digunakan disajikan dalam Tabel di bawah ini (untuk pabrik yang menghasilkan EFB 30 ton/ jam)

renewable enery2

Bahan bakar terdiri atas fiber, shell, EFB (tandan kosong) dan methane. Sebagai contoh dalam baris ke – 1, terdapat nilai apabila seluruh potensi limbah digunakan, maka diperoleh total energi sebesar 2 Mega Watt. Potensi tersebut dengan menganggap efisiensi bolier sebesar 80% dan generation sebesar 20%. Apabila kapasitas pabrik sebesar 60 ton/jam, maka diperoleh 4 Mega Watt dengan mengasumsikan korelasi linier sama dengan satu. Untuk 4 Mega watt diperkirakan dapat mengalirkan daya listrik untuk 4000 keluarga dengan daya tiap rumah 900 VA. Apabila setiap atau beberapa pabrik sawit membangkitkan listrik, maka dapat dibangkitkan energi dalam ratusan bahkan ribuan Megawatt di seluruh Indonesia.

Peran dan Benefit Perkebunan

Peran perkebunan dapat dilihat dari sisi sosial maupun ekonomi. Perkebunan rata-rata berada di daerah yang jauh dari perkotaan, sehingga apabila pabrik sawit membangkitkan energi listrik dapat mensuplai listrik sampai ke daerah-daerah. Hal ini berpengaruh langsung terhadap masyarakat, sehingga membantu pemerintah dalam pemerataan listrik sampai ke daerah. Sisi ekonomi dapat dilihat dari dua pendekatan, yaitu energi itu sendiri dan dana dari program CDM oleh negara-negara maju akibat pengurangan emisi polusi. Apabila perkebunan dapat menjual listriknya ke PLN, secara langsung dapat menambah pendapatan bagi perusahaan. Hal ini dapat dilakukan karena telah didukung oleh Undang – undang ketenagalistrikan yang baru yaitu Undang Undang Ketenagalistrikan No. 30 Tahun 2009 salah satunya mencerminkan keinginan untuk memenuhi gap antara kebutuhan pembangkit terhadap konsumen yang masih terjadi. Salah satu yang tercermin dalam undang-undang tersebut adalah mengenai pihak yang menyediakan energi listrik (pembangkit) bukan monopoli oleh pihak PLN. Perusahaan pembangkit dapat menjual listriknya kepada PLN apalagi dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang lain.

Aspek finansial dan lingkungan terkait CDM, dapat dilihat atau dihitung dari sisi pengurangan emisi. Pengurangan emisi karbon dihitung terhadap jumlah emisi yang dikurangi tiap daya yang dihasilkan oleh biomassa, dikaitkan emisi yang dihasilkan oleh solar maupun batubara untuk daya yang sama. Sulistyaningsih, Kontribusi CDM untuk mendukung pengembangan diversifikasi energi panas bumi (studi emisi CO2 PLTP panasbumi Garut – Jawa Barat dengan mekanisme CDM dalam Kyoto protocol mengatakan pembangkit listrik PLN Jawa Bali menghasilkan polusi sebesar 722.365 ton CO2 dari pembangkit sebesar 100 MW atau 7000 ton tiap 1 MW pada tahun 2003. Untuk setiap ton CO2 dihargai 5 – 10 Dollar Amerika. Aspek terhadap lingkungan yang lain adalah adanya polusi oleh biomassa. Limbah padat sawit (tandan kosong) dapat mengeluarkan gas metana, maka gas ini akan merusak lapisan ozon. Jumlah gas metana berbanding lurus terhadap jumlah limbah, sehingga dapat dihitung berapa gas metana yang dikurangi oleh pembakaran limbah tersebut untuk pembangkit tenaga listrik.Pengurangan gas metana ini dapat pula dimasukkan dalam prgram CDM.

Teknologi dan SDM

Apabila perkebunan sudah masuk dalam bidang energi, maka diperlukan penyiapan sarana maupun pra sarana, teknologi maupun sumber daya manusia. Pembangkit listrik memiliki teknologi khusus yang berbeda dengan teknologi pengolahan di perkebunan. Pembangkit Listrik Tenaga Buah Sawit (PLTBS) bisa disalurkan secara mandiri ataupun menggunakan (tersambung langsung) ke peralatan PLN sehingga merupakan salah satu dari DG (Distributed Generation) yang terkoneksi terhadap sistem/jaringan listrik PLN. Untuk itu diperlukan pengetahuan mengenai sistem pembangkit, sistem transmisi dan sitem distribusi. SDM teknik pabrik selama ini menangani satu aspek yaitu pembangkit. Dalam ketiga aspek tersebut perlu pula diketahui teknik-teknik proteksi (pengaman), koordinasi proteksi jaringan listrik, pembebanan, peralatan seperti trafo, kapasitor dan lain-lain. Hal tersebut berkaitan dengan teknologi maupun peralatan agar sistem yang terkoneksi ataupun tersalur dapat berjalan dengan baik. Diperlukan pula pengetahuan mengenai perhitungan probabilitas penyediaan pembangkit seperti LOLP (Loss of Load Probability), indeks kualitas meliputi SAIFI (System Average Interuption Frequency Index) SAIDI (System Average Interuption Duration Index) dan lain-lain. Untuk keperluan desain atau perencanaan maupun setting dapat menggunakan software seperti ETAP (Electrical Transient and Analysis Program), EDSA (Electrical Distribution System Analysis) dan lain-lain. Untuk peralatan dapat digunakan berbagai pilihan dari sederhana sampai yang sangat modern meliputi teknologi manual, otomatis, sistem jaringan sampai dengan sistem database yang sangat kompleks. Untuk keperluan sensoring maupun database dapat digunakan sistem SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) dengan menggunakan banyak pilihan software dari berbagai vendor. Software dapat menggunakan ETAP, Wonderware, Siemens Wincc dan lain-lain.

Peran perkebunan dalam sektor energi dan lingkungan ini dapat memberikan citra positif kepada seluruh stakeholder maupun keuntungan bagi insan perkebunan sendiri, sehingga proses bisnis di industri perkebunan diharapkan dapat berjalan dengan baik sehingga semakin maju dan berkembang.

Advertisements


Categories: artikel

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

1 reply

  1. Re-Engineering Pabrik Kelapa Sawit Menjadi Pusat Efisiensi Energi …
    Pabrik kelapa sawit dapat melepaskan energi terbarukan pada tingkat tinggi sangat besar efisiensi energi yang timbul dari karakteristik unik dari parameter operasinya.

    Liked by 1 person

%d bloggers like this: