Hati Tidak Akan Bersinar Manakala Dunia Menutupinya

Agustus 2014 | oleh: Muhamad Mustangin

Judul diatas merupakan salah satu bab dalam kitab Al Hikam yang disusun oleh Ibnu Atha ‘illah al-Iskandari. Pada awalnya tulisan ini kami beri judul Integritas. Integritas mungkin memiliki pemahaman yang luas berdasarkan bahasa, makna, definisi dan sebagainya. Penulis tidak memiliki kompetensi dalam hal ini. Untuk mengetahui arti integritas, kita dapat mencari melalui mbah Google di internet. Banyak sekali perusahaan yang menentukan salah satu nilainya adalah integritas. Dalam pelatihanpun ketika orang ditanya nilai yang ada dalam perusahaan, mayoritas menjawab integritas. Namun di sini akan kami informasikan beberapa kisah nyata, dan kita diberi kebebasan untuk dapat menarik hikmah dan kesimpulan masing – masing.

Pada saat kursus jabatan di Lembaga Pendidikan Perkebunan ada seorang pengajar yang mengajar dalam salah satu materi. Hal yang menarik ketika beliau menceritakan kisah nyata mengenai teman beliau yang merupakan seorang pengusaha. Dia adalah seorang pengusaha kebun kelapa sawit. Ia telah menginvestasikan sekitar 200 Milyar. Permasalahan terjadi pada saat dia pulang dari umrah. Ketika masuk kantor didapati bahwa tanah/lahan beliau berada dalam masalah. Perusahaan harus segera menyelesaikan permasalahan tersebut. Pada saat itu kementrian pertanahan mempermasalahkan status tanah tersebut. Apabila tidak dapat menyelesaikan permasalahan, maka ia akan kehilangan lahan tersebut. Persoalan muncul ketika surat mengenai tanah tersebut datang satu hari sebelum batas waktu penyelesaian. Misalnya pemerintah mewajibkan untuk menyelesaikan pada tanggal 15, surat datang pada tanggal 14. Apabila perusahaan tidak dapat menyelesaikan persoalan tersebut, maka lahan seharga 200 Milyar tersebut akan hilang. Dalam kondisi bingung dan tidak menentu pengusaha tersebut berpikir mencari cara dalam waktu yang sangat mepet.

Dalam kondisi kegalauan dan tidak menentu tersebut datang seseorang yang menawarkan jasa untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ia meyakinkan bahwa dapat menyelesaikan persoalan tanah tersebut. Ia menyatakan mengenal para pejabat di kementrian. Namun untuk mengatasi persoalan tersebut, maka diperlukan pengurusan ke kementrian, sehingga dia meminta sejumlah uang untuk memperlancar urusan tanah tersebut. Uang tersebut merupakan konskuensi dari jalur dan cara yang ditempuh. Dia hanya berkata, bapak tinggal memilih ingin kehilangan 200 Milyar karena kehilangan tanah atau kehilangan katakanlah sekian ratus juta atau 1 sampai 2 milyar saja.

Pemilik perusahaan tersebut terus berpikir dengan waktu yang semakin sempit. Akhirnya ia memilih tidak akan menyalahi perintah Tuhan. Beliau berkeyakinan kalau kita mengikuti perintah Tuhan, maka Tuhan akan memberikan jalan keluarnya. Ia berkeyakinan kalau tanah tersebut miliknya, maka Tuhan akan memberikan jalan kepadanya untuk menyelesaikan permaslahan tersebut, tetapi kalau tanah tersebut bukan miliknya, maka ia akan ikhlas dengan apa yang akan terjadi. Untuk itu ia tidak menyetujui bantuan dari orang tersebut. Ia serahkan semua persoalan kepada Tuhan. Setelah itu pada malam hari sesudah Maghrib ia ditelepon oleh seseorang. Ternyata ia adalah kepala bagian pertanahan yang sedang mengurusi tanah miliknya serta kantor asal surat permasalahan tanah tersebut. Beliau pun menjadi kaget. Lebih kaget lagi ketika ia mengetahui bahwa kepala bagian tersebut teman lamanya. Akhirnya beliau menceritakan apa yang terjadi serta mengenai surat yang datangnya sangat mepet tersebut. Akhirnya temannya tersebut akan membantu permasalahan tersebut, paling tidak dari unsur waktu penyelesaian. Beliaupun bersyukur kepada Tuhan atas apa yang terjadi. Ia telah membuktikan, siap mengikuti jalan yang Tuhan perintahkan, maka ia akan memperoleh sesuatu hal yang baik. Akhirnya ia dapat menyelesaikan permasalahan tanah tersebut tanpa menggunakan uang.

Berikutnya kisah datang dari seorang lulusan perguruan tinggi. Sebagai lulusan dengan berbekal ijazah sarjana ia melamar berbagai pekerjaan. Proses pencarian pekerjaan ini cukup sulit karena sekitar tahun 2001 pada saat Indonesia masih belum bisa keluar dari krisis pada tahun 1998. Perusahaan di Indonesia belum membaik, BUMN juga mungkin masih menata diri. Akhirnya setelah berjuang dengan keras ia memperoleh pekerjaan di Jakarta. Pada saat itu ia diterima disebuah perusahaan perdagangan. Tugasnya adalah mempersiapkan barang – barang untuk penjualan baik secara langsung maupun tender. Ia harus belajar mengetahui teknologi peralatan tersebut yang merupakan termasuk teknologi yang cukup tinggi. Selain itu ia harus mempersiapkan penawaran lengkap dengan spesifikasi dan harganya. Ia harus bekerja sama dengan bagian marketing yang bertugas mencari konsumen ataupun pemilik lelang dari pemerintah maupun swasta. Ia termasuk cukup sukses karena memiliki gaji yang cukup tinggi, bahkan setiap bulan hampir selalu naik.

Ketika bekerjasama dengan marketing tersebut, ia mengetahui proses bisnis perusahaanya. Ia sebagai seorang sarjana, baru menyadari bahwa dunia tidak selamanya indah. Banyak pernak pernik perilaku manusia. Ia membayangkan semua orang berlaku baik dan mengikuti jalan yang yang ia perlajari ketika belajar agama. Dalam perusahaannya terdapat praktek – praktek yang menurutnya menyimpang dari aturan norma masyarakat maupun agama. Hal itu ia sadari setelah sekitar 4-5 bulan bekerja. Ia berada dalam kebimbangan, terus bekerja atau keluar dengan resiko kehilangan pekerjaan serta sulit mencari pekerjaan baru karena ekonomi negara belum sepenunya pulih, kemudian kembali ke kampung dengan status menganggur. Sesuatu yang sangat dipikirkannya adalah kedua orang tuanya yang telah membiayainya, namun ia akan tetap meminta ijin keduanya. Akhirnya ia tetap bertekad dalam pendirian, ia akan menjaga nilai – nilai yang diyakininya serta dengan mantap ia memutuskan keluar dari pekerjaan. Pada pertengahan tahun 2002 ia keluar, dari Jakarta kembali ke kampung tanpa pekerjaan. Ia hanya membawa uang sisa dari gajinya selama bekerja.

Ternyata resiko tersebut benar – benar terjadi. Selama satu tahun ia menganggur. Pada masa itu ia tetap berusaha untuk terus mencari pekerjaan. Cobaan datang ketika pemilik perusahaan memanggilnya untuk bekerja kembali dengan diberi janji akan dinaikkan gajinya dengan gaji yang tinggi dengan selisih sekitar 1 jutaan dengan atasannya yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun. Tentu hal tersebut merupakan tawaran yang menggiurkan. Namun ia sudah bertekad untuk menegakkan nilai – nilai yang menjadi keyakinannya. Ia menolak halus ajakan tersebut. Setelah satu tahun, uangnya di tabungan hampir habis, tetapi ia tetap tidak merubah pendiriannya. Setelah berusaha akhirnya ia berhasil diterima di sebuah lembaga pendidikan untuk menjadi pengajar. Ia sangat bersyukur. Ia membuktikan apa yang diyakininya membuahkan kenyataan. Walaupun gaji yang diterima hanya sekitar setengah dari gaji yang ia terima sebelumnya, namun ia tetap berusaha menjalaninya. Ia semakin bersyukur terhadap anugerah yang dimilikinya, karena setelah ia bekerja diatas 5 tahun di tempat yang baru, ia mendapatkan informasi perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya di Jakarta telah bangkrut.

Kita juga dapat belajar dari tokoh yang terkenal berikut ini. Kejadian ini terjadi pada tahun 2014. Brendan Eich mengundurkan diri dari jabatan CEO Mozilla akibat tekanan kelompok pendukung pernikahan gay. Dia ditekan karena pernah menyumbang uang untuk kampanye rancangan undang-undang menolak pernikahan sejenis. Dia menyebut Indonesia dalam wawancara dengan Cnet, dia hanya sempat 10 hari menjadi CEO Mozilla kemudian mengundurkan diri. Eich mengatakan bahwa Mozilla sangat inklusif, tidak hanya bagi pendukung pernikahan sejenis, tapi juga bagi orang seperti dirinya dan para penentang pernikahan gay di Indonesia, yang merupakan bagian dari keberadaan Mozilla. Eich menyumbang 1.000 dolar untuk kampanye rancangan peraturan yang menentang pernikahan gay. Sumbangan itu terungkap tahun 2012 dalam dokumen publik dan sejak itu dia jadi sasaran para pendukung pernikahan gay. Eich mendapatkan protes lebih dari 70 ribu orang yang telah menandatangani petisi meminta Eich mundur dari CEO Mozilla jika dia masih tidak mendukung pernikahan sejenis. Sebenarnya apabila Eich bersedia untuk mendukung pernikahan sejenis, maka ia aman dan mungkin tetap menjadi CEO Mozilla. Namun ia memilih untuk tetap memegang teguh keyakinan dan pendiriannya. Ia tidak memikirkan akan kehilangan jabatan dan segala kompensasi yang ia terima.

Kisah – kisah diatas menceritakan bagaimana seseorang tidak menjadikan materi sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan sikapnya. Ia mendasarkan keputusan pada keyakinan dan nilai yang ada dalam dirinya. Pengusaha dan karyawan pada kisah pertama dan kedua itu tidak mau melanggar aturan agama dan berkeyakinan adanya pertolongan Tuhan dan menyerahkan segalanya pada Tuhan. Eich tidak mempedulikan tekanan dari banyak orang. Mengenai permasalahan tentang keduniaan ini Ibnu Atha ‘illah mengatakan “Bagaimana mungkin kalbu akan bersinar, sedangkan bayang – bayang dunia masih terpampang di cerminnya? Bagaimana mungkin akan pergi menyongosng Illahi, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya? Bagaimana akan bertamu kehadirat-Nya sedangkan ia belum suci dari kotoran kelalaiannya? Bagaimana mungkin diharapkan dapat menyingkap berbagai rahasia, sedangkan ia belum bertobat dari kekeliruannya?”

Jika hati terbelenggu nafsu, bagaimana mungkin bisa berjalan menuju Tuhan. Orang yang terbelenggu tidak akan dapat berjalan. Bagaimana mungkin seseorang bisa meraih sesuatu yang diinginkannya tetapi ia masih melakukan hal – hal yang merintangi tercapainya keriniginan tersebut. Tampilnya gambaran keduniaan di dalam cermin hati menjadi sebab terbelenggunya hati oleh syahwat. Keterbelengguan hati dapat menyebabkan kelalaian. Kelalaian menjadi sebab segala kekeliruan dan kekeliruan menyebabkan butanya hati.

Sejalan dengan hal tersebut, apabila seseorang sangat memikirkan dunia, maka ia jatuh dalam ketamakan. Dalam bab lain di bukunya Ibnu Atha ‘illah berkata “jangan kau tanam benih ketamakan di hatimu sehingga akan tumbuh menjadi pohon kehinaan yang dahan dan rantingnya akan bercabang – cabang”. Ketamakan merupakan sikap tercela yang dapat merusak ‘ubudiyah. Bahkan ia pangkal segala kesalahan,. Ketamakan menandakan ketergantungan manusia terhadap masnusia. Disinilah letak kehinaan dan kenistaan sikap ketamakan. Orang menjadi sukses secara duniawi itu adalah keharusan, namun harus dilakukan sesuai dengan mengikuti norma – norma yang diperintahkan Tuhan sehingga kesuksesan dunia tersebut akan diikuti dengan kesuksesan akhirat.

Advertisements


Categories: artikel, research

Tags: , , , , ,

%d bloggers like this: