Belajar dar Sang Kyai

Agustus 2014 | oleh: Muhamad Mustangin

Tulisan ini menunjukkan nilai – nilai yang universal, tidak mengarah pada agama tertentu, tidak ada kutipan dari ayat suci maupun hadits. Terdapat istilah agama namun sangat sedikit. Kisah yang disajikan merupakan sebuah kisah nyata. Informasi berasal dari tulisan Alm. KH. Abdurrachman Wahid, M Sobari, dan berbagai sumber.

Muhammad Sobari, tentu banyak orang yang telah mengenalnya. Seorang wartawan, budayawan dan penulis buku. Ia banyak bergaul dengan kyai. Ia penasaran dengan seorang kyai. Ia telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menemuinya namun sangat sulit. Ia ingin dido’akan oleh kyai tersebut. Karena sulitnya tersebut, maka ia bertekad, walaupun sampai ke lubang semut ia akan terus mencari kyai tersebut. Setelah beberapa waktu berusaha, akhirnya ia berhasil menemui kyai tersebut dan meminta didoa’akan beliau. Pada akhir pertemuan sang kyai berkata bahwa “tidak perlu sampai ke lubang semut” untuk mencarinya. M. Sobari tentu terkejut dengan kata-kata dari kyai tersebut. Nah, apakah sang kyai tersebut “hanya” pas berkata dengan kata – kata yang cocok dengan batin dari M Sobari atau sang kyai memang mengetaui hal tersebut. Namun bagi M Sobari hal tersebut menjadi hal yang luar biasa. Tentu menjadi seseorang yang memiliki keistimewaan apabila mengetahui hal tersebut sehingga beliau dapat “menembus batas”.

Kyai yang kedua merupakan seorang kyai atau tokoh agama di sebuah kampung di Jawa Tengah. Ia memiliki pekerjaan yang sederhana (kalau tidak salah ingat adalah seorang tukang becak). Ia hidup dalam kesederhanaanya. Karena ketinggian ilmu dan kesalehannya maka ia sering mengisi kegiatan agama seperti ceramah, memimpin acara keagamaan, hajatan dan lain – lain. Setiap kali ia ceramah atau memimpin acara keagamaan ia diberi ihram yang berupa uang. Setiap kali orang yang memiliki hajatan ataupun panitia yang memberi uang, maka biasanya orang akan berkata dengan “basa basi” seperti, Pak Kyai, ini sekedar buat beli sabun. Maka pak kyai ini akan membelikan semua uangnya untuk membeli sabun. Akibat hal ini orang menyebutnya dengan kyai sabun. Tidak heran bila rumahnya banyak sabun. Sabun di rumahnya tersebut dibagikan ke para tetangganya. Kadang orang akan bilang, Pak Kyai, ini sekedar buat beli rokok. Maka seluruh uangnya dibelikan rokok. Dan rokok tersebut dibagi – bagi pula ke para tetangganya.

Dari kyai kita ini tentu kita dapat mencontoh nilai – nilai yang ia pegang teguh. Ia akan melakukan semua amanah yang diberikan kepadanya. Ia menjaga betul makanan yang masuk dalam tubuhnya. Ia menjaga harta yang masuk kerumahnya. Itu adalah bentuk kehati-hatian dari sang kyai ini. Beliau akan menjaga dengan baik dari tugas dan kewajibannya maupun hak yang melekat pada dirinya. Ia menggunakan sabun secukup yang ia perlukan. Bagi orang seperti beliau, dunia adalah sesuatu yang berlebih dari yang ia perlukan. Apabila beliau seorang karyawan yang diberi amanah dari perusahaan misalnya mobil, laptop, HP atau apapun tentu akan menggunakan hal – hal tersebut sesuai peruntukannya. Ia akan berhati – hati sekali jangan sampai menggunakan amanah tersebut untuk kepentingan pribadinya sedikitpun. Semua peralatan dipergunakan untuk kegiatan dan kepentingan perusahaan. Berbeda ketika fasilitas tersebut dianggap hadiah, bukan lagi amanah. Ketika digunakan untuk kepentingan pribadi, maka akan berpikir rasionalisasi terhadap yang dilakukannya. Maka pada aspek ini dikhawatirkan akan timbul “Pembenaran” dan bukan Kebenaran.

Kyai yang ketiga adalah seorang kyai di Jawa (maaf lupa tepatnya dimana). Ia merupakan seorang pemimpin sebuah pesantren. Seperti kebanyakan pesantren tentu memiliki sebuah masjid. Masjid tersebut berada di lingkungan pesantren. Salah satu ciri khas masjid di kalangan pesantren NU adalah sebuah kolam didepan masjid. Kolam tersebut digunakan untuk bersih – bersih dan berwudlu sebelum sholat. Dengan kolam yang langsung ke masjid, maka orang tidak perlu harus bersih dari rumah, tetapi secara otomatis dapat langsung membersihkan diri di kolam tersebut. Sehingga orang tanpa sandal pun bisa langsung ke kolam dan masuk ke masjid. Di sebuah masjid biasanya tidak lupa tentu memiliki sebuah kentongan ataupun bedug, alat yang dipukul bila waktu sholat telah tiba. Sebelum adzan dikumandangkan biasanya kentongan tersebut dipukul tanda waktu sholat telah tiba yang dilanjutkan dengan adzan. Nah, dalam pesantren tersebut memiliki sebuah tradisi ataupun peraturan. Setiap pergantian jam maka akan ada yang memukul bedug sesuai dengan jam saat itu. Misalnya jam tujuh, maka seseorang akan memukul sebanyak tujuh kali ketukan bedug (dug..dug…dug…sebanyak tujuh kali). Demikian pula untuk jam delapan, sembilan dan seterusnya. Siapapun boleh memukul bedug tersebut. Namun ada sebuah peraturan bahwa, apabila seseorang salah memukul bedug maka ia harus menceburkan diri ke kolam tersebut. Misalnya saat ini jam lima, tetapi bedug dipukul sebanyak empat ataupun enam kali atau yang selain lima maka orang yang memukul bedug tersebut harus menceburkan diri di kolam masjid. Suatu malam, saat itu pukul sepuluh malam. Kemudian terdengar seseorang memukul bedug di masjid. Setelah diperhatikan ternyata bedug dipukul sebanyak sebelas kali. Artinya terjadi kesalahan. Sesaat kemudian para santri menyadari telah terjadi kesalahan dan berteriak. Bersamaan dengan hal tersebut, kemudian terdengar suara byuu…rrrr yang berasal dari kolam masjid. Seseorang telah masuk dan menceburkan diri ke kolam. Maka santri – santri berteriak bersorak dan beramai – ramai menuju ke kolam masjid ingin mengetahui siapa yang telah menceburkan diri ke kolam. Setelah para santri sampai di kolam masjid, semua mendadak terdiam. Mereka melihat sang kyai yang merupakan pimpinan pesantren dan guru mereka saat ini berada di kolam. Sang kyai telah salah memukul bedug dan telah menceburkan diri di kolam pada jam sepuluh malam sebagai konsekuensi dari kesalahannya memukul bedug. Suasana menjadi sangat hening, kemudian para santri kembali ke tempat masing – masing dengan pikirannya sendiri. Namun mereka bangga dengan sang kyai. Dengan kejadian tersebut membuat para santri menyadari bahwa peraturan dalam pesantren tidak memandang kedudukan, tetapi sama untuk seluruh warga pesantren dan semua wajib mematuhinya. Sang kyai memberikan panutan yang sangat baik. Beliau membuktikan bahwa teladan sangat efektif untuk memberikan efek positif.

Kyai yang keempat adalah dari betawi. Ahli agama di betawi sebenarnya tidak di panggil kyai. Akulturasi Jawa yang menyebut ahli agama dengan kyai. Ulama dari betawi umumnya belajar ke negara arab atau timur tengah. Seorang ahli agama di Syria, Libanon dan Mesir disebut dengan mu’alim. Tokoh kita ini bernama KH Abdullah Syafi’i atau Mualim Syafi’i. Beliau sudah wafat (semoga diterima semua amalnya dan diampuni semua dosanya). Beliau banyak mengajar di surau dan masjid hampir di seluruh jakarta timur dan jakarta selatan. Bersama para mualim di jakarta, melalui pengajaran dasar agama mampu menumpulkan dampak negatif dari proses modernisasi. Ketika Ali Sadikin menjabat gubernur DKI Jakarta, Mualim Syafi’i adalah pelopor yang dengan gigih menentang kebijakan mencari dana melalui perjudian. Namun mengapa justru sang mualim bergaul erat dengan Ali Sadikin, walaupun sang gubernur tetap mengijinkan perjudian? Apakah sang mualim telah melupakan perjuangan, karena status sosialnya mencapai ketinggian baru? Apakah ia sudah terbuai dengan penghormatan sang gubernur kepadanya? Ternyata tidak demikian. Sebabnya sederhana: beliau tahu batas peranan yang harus dimainkan, yaitu sekedar mengajarkan pendirian agama. Bukan menentang pemerintah. Juga bukan menyusun kekuatan untuk memaksakan pendirian. Kalau pendirian agama sudah cukup disampaikan, berarti tugas dan peranan sudah dilaksanakan. Tidak perlu rusak pergaulan/hubungan karenanya, dan tak harus bersitegang leher sebagai akibat perbedaan pandangan. Sikap inilah yang memancarkan kebesaran Mualim Syafi’i karena dari kyai kampung kemudian menjadi ulama besar, sehingga memunculkan keteladanan cemerlang akan perlunya kesadaran peranan diri sendiri dalam kehidupan. Walaupun dalam jangka pendek beliau tidak dapat memberantas perjudian, namun dalam jangka panjang beliau dapat memelihara sesuatu yang sangat berharga: budaya politik yang mantap karena ia menggunakan hak untuk berbicara dalam ukuran yang tepat.

Kyai yang kelima adalah seorang kyai dari Pati Jawa Tengah. Kyai Sahal dididik dalam semangat memelihara ilmu – ilmu keagamaan tradisional. Pada waktu kecil dididik oleh “kyai ampuh”, yaitu ayahnya sendiri Kyai Machfudz. Kemudian belajar ke “kyai ampuh” lain yaitu Kyai Zubir Sarang. Maka belum mencapai 40 tahun Kyai Sahal sudah jago dalam forum – forum ilmu fiqh*). Namun Kyai Sahal dianggap bersikap cukup “aneh” bagi kalangan pesantren. Mula–mula menerima “masukan baru” berupa proyek pengembangan masyarakat dari LP3ES Jakarta. Beliau harus memikirkan tentang pencemaran lingkungan, penerapan teknologi terapan (tungku Lorena) dan merintis usaha pengembangan ekonomi yang lebih mandiri di kalangan rakyat pedesaan. Salah satu usaha adalah membuat dan memasarkan “krupuk tayamum” karena krupuk yang digoreng dengan pasir. Lumayan, bisa mengangkat sekian keluarga yang tadinya menganggur. Selain masalah tersebut, kyai Sahal berani mempertaruhkan wibawanya di kalangan sesama ulama dengan menerima kehadiran bule Amerika beragama Katolik, untuk tinggal dan mengajar bahasa Inggris di pesantrennya. Lalu apa yang menggerakkan beliau untuk melakukan semua itu? Jawabannya Fiqh itu sendiri. Hukum agama mengatur secara menyeluruh. Toh kyai Sahal tidak pula kehilangan hubungan dengan sesama pesantren. Terbukti pengayoman dari sesepuh para kyai didesanya, yaitu Kyai Abdullah Salam, pemimpin pesantren hafalan Al Qur’an dengan keluhuran akhlaknya (salah satunya beliau tidak mau menerima sumbangan dari pemerintah, karena kehati-hatiannya, takut sumbangan itu berasal dan bersumber dari hal – hal yang dilarang agama).

Dalam kisah kelima kyai tersebut merupakan sebuah untaian pemahaman spiritualitas. Spiritualitas dimulai dari keberadaan dirinya dan Tuhan, kemudian pengelolaan diri, dilanjutkan interaksi pribadi dengan lingkungannya. Setiap fase dikisahkan dalam kehidupan seorang kyai. Fase pertama merupakan pemahaman dan kedekatan diri terhadap Tuhan, fase kedua pengendalian diri terhadap nafsu keduniaan dengan kehatian – hatian, fase ketiga pengendalian diri yang bisa berefek ke lingkungan (secara tidak langsung) dan merupakan keteladanan. Fase keempat adalah bagaimana berinteraksi langsung dengan orang lain dan mampu memposisikan diri serta mengambil manfaat dari interaksi tersebut. Fase kelima adalah berinteraksi dan bermanfaat bagi banyak orang maupun lingkungan yang merupakan pengejawantahan spiritual secara komprehensif, tanpa memikirkan dirinya akan mendapat kerugian (dimusuhi, dikucilkan, tidak dihormati dan lain sebagainya). Setiap kyai diambil kisah kekhasannya. Walaupun dalam setiap kyai dikisahkan dalam satu tema, Insya Allah kelima kyai tersebut telah memerankan, memahami dan menjalankan seluruh fase tersebut.

*) Salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun hubungan manusia dengan Penciptanya

Advertisements


Categories: artikel, research

Tags: , , , , , , ,

%d bloggers like this: